Rabu, 22 Januari 2014

Harga grosir Sunmas Rp 087776150310

Manfaat Sunmas Foot Massager :

Menghilangkan capek " capek di kaki, rasa capek dan masalah pada otot
Terapi stroke, memperlancar aliran darah dan kerja jantung, ginjal dan lain " lain
Menstimulasi syaraf supaya normal dan sebagai alat terapi elektro-akupressur
Merelaksasi badan (membuat tubuh menjadi rileks)
Memperlancar haid
Melancarkan peredaran darah (kaki dan badan)
Merangsang saraf pada kaki agar bekerja optimal (saraf kaki adalah pusat saraf pada tubuh)
Menghilangkan ketidaknyamanan di sekujur otot tubuh
Mengoptimalkan fungsi tubuh
Meningkatkan sistem imunitas tubuh
Dapat mengobati jenis penyakit antara lain : migrain, susah tidur, pegal " pegal, dan berbagai penyakit lainya
Related Stories:
Rayakan Hari Istimewa Bersama Mozaik Entertainment
Nikmati Serunya Bermain di Trans Studio Bandung
Tampil Keren dengan Excelcy Baseball Jacket
Rasakan Sensasi Seru di The Columbus Water Park
Selamat Tinggal Kusut dan Lecek
Berbagai Perawatan Kecantikan di Centre De Beaute
Aksesoris Rapi Dengan Little Dress Hanging Jewelry Organizer 
Berbagai Manfaat Akupuntur di Centre De Beaute
High Heels Membuat Makin Percaya Diri

Berita Lainnya
Aktivitas Otak Permudah Pendeteksian Emosi Terdalam Seseorang
Bahaya, Menggunakan Handphone Sambil Berjalan
5 Hal yang Meningkatkan Daya Jual Anda
10 Ide Kegiatan Kencan Menyenangkan Bersama Pasangan
Ingin Lebih Tenang dan Terhindar dari Stress? Luangkan Waktu Bekerja Sebagai SukarelawanRasa sakit merupakan suatu tantangan bagi manusia selama masa seribu tahun. Kemudian berlanjut sebagai suatu hal yang tersebar dimana-mana dan merupakan salah satu alasan terbanyak untuk mencari perawatan dan kenyamanan. Walaupun manajemen rasa sakit saat ini telah memperoleh suatu peringkat dari suatu disiplin ilmu kedokteran, tapi hal ini sudah cukup dengan dasar klinis dan ilmu pengetahuan yang kuat. Prinsip-prinsip dan prosedur standar telah dibuat berdasarkan alat penguji- waktu­­­­­ dalam kedokteran (time-tested tools of medicine)—riwayat yang lengkap, pemeriksaan fisik yang menyeluruh, diagnosis fisik, diagnosis rasa sakit/nyeri, dan rencana perawatan. Kewajiban untuk menghilangkan rasa nyeri merupakan dasar komitmen seorang dokter, tetapi beberapa survey klinis menunjukkan bahwa nyeri/rasa sakit umumnya bukanlah tujuan dari perawatan kesehatan. Adanya tabu dari masyarakat dan miskonsepsi mengenai medikasi analgesik dibandingkan kekurangan pilihan perawatan adalah suatu hal yang salah. Karena nyeri bukanlah suatu hal yang dapat diukur, tantangan dalam mengontrol rasa nyeri adalah menyeimbangkan antara kebutuhan pasien untuk mengurangi rasa sakit/nyeri dengan apa yang difokuskan dokter untuk keselamatan pasien.
Pasien yang sakit akan memperlihatkan suatu masalah yang kompleks, yakni berupa masalah kesehatan, emosional, sosial, kebiasaan, ekonomi, pekerjaan, dan hukum. Semua itu terangkum dengan baik dan tidak ada dokter yang dapat mengatasi secara efektif sindrom nyeri yang kompleks tersebut. Hal ini tepat sekali, karena kompleksitas ini sehingga aplikapabiliti dari model penyakit tradisional tidak adekuat dan tidak tepat.
Sangat sedikit proses penyakit manusia yang tidak berhubungan dengan nyeri/rasa sakit. Pada keadaan akut, dapat diatasi secara efektif dengan mengaplikasikan teknik kesehatan modern. Meskipun kenyataanya bahwa nyeri adalah keluhan yang paling sering muncul, manajemen yang efektif menghasilkan tujuan yang sukar untuk dipahami. Manajemen rasa sakit yang akut dalam beberapa hal tidak adekuat atau tidak efektif, sedangkan manajemen nyeri kronis menimbulkan banyak pendapat, praktek, dan data-data klinis. Perawatan yang tidak benar tidak akan mengurangi rasa sakit, kesalahan iatrogenic dapat melemahkan pasien.
Tindakan dokter terhadap nyeri yang dialami pasien, harus mengikuti poin berikut:
1. Komprehensif, evaluasi yang kompeten dan perawatan nyeri pada pasien merupakan hal yang paling penting.
2. Model biopsikososial merupakan model penyakit yang tidak pantas dari suatu diagnosis dan perawatan.
3. Perawatan nyeri dan implemetasi pada pasien adalah usaha multidisiplin ilmu dan interdisiplin.
4. Tujuan perawatan nyeri adalah lebih banyak keberhasilan dalam memanajemen nyeri daripada mengobati. Manajemen nyeri dapat mengurangi, mencegah hal yang lebih buruk, dan mengoptimalkan fungsi kehidupan.

Menurut Zachary Cope (1921) dalam tulisannya tentang nyeri abdominal, “jika morfin diberikan, ada kemungkinan bahwa pasien akan meninggal dengan rasa senang sedangkan pasien tersebut merasa bahwa dia dalam keadaan masa penyembuhan.” Sejak saat itu, ketika diberikan morfin dalam dosis 15-30mg intramuscular untuk mengurangi rasa nyeri, hingga sekarang dengan diagnosis standar dan dosis, masih banyak yang mempertahankan bahwa menutupi gejala dapat menutupi penyebab penyakit. Nyeri kurang menjadi perhatian dalam pendidikan kedokteran dan hanya dijadikan sebagai subjek penelitian. Sekitar empat dekade telah berlalu sejak Dr. John Bonica mengenal bahwa nyeri sebagai suatu hal klinis yang berguna sebagai perkiraan dalam trauma yang bersifat akut atau keluhan neurotik terhadap individu yang menolak perawatan. Dalam suatu review lebih dari 50 mayor buku kedokteran dari berbagai disiplin ilmu, termasuk bedah, kedokteran umum, pediatrik, dan onkologi, dia menemukan bahwa hanya 54 dari 25000 halaman yang menjelaskan tentang nyeri. Karena fokusnya Dr. Bonica mengenai nyeri maka dia dikenal sebagai “the father of modern pain theory.”
Nyeri, berdasarkan International Association tentang nyeri, adalah suatu pengalaman yang tidak menyenangkan baik berupa sensorik maupun emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau menjelaskan tentang kerusakan itu sendiri. Definisi tersebut menyetakan secara tidak langsung bahwa pengalaman nyeri adalah subyektif dan selalu berhubungan dengan faktor nonfisik, namun tanda –tanda dari pasien atau gejala yang bukan organik, nyeri adalah nyata. Perawatan untuk nyeri yang bersifat kronik, yang sering didefinisikan sebagai nyeri yang persisten dalam jangka waktu yang lama lebih kurang 3 bulan, masih diperlukan.
Nyeri sebagai sensasi dan persepsi yang diterima secara empirik dalam penelitian fisiologi sebelum Bonica melaksanakan observasinya.
Perkembangan spesialisasi baru ini (manajemen nyeri) didorong karena adanya protes dari pasien. Mereka yang menderita nyeri akut sering dituduh mencari analgesik yang berlebihan. Hal ini terbukti bahwa adanya fakta yakni pasien dengan nyeri akut sangat menderita karena analgesik yang diberikan tidak adekuat. Karena adanya protes ini, dibentuk suatu garis pedoman yang berkenaan dengan pendekatan multidisplin untuk manajemen nyeri dan segala sesuatu yang berkaitan dengan nyeri.
Dimanapun nyeri akut yang berhubungan terhadap penyakit atau trauma umumnya dapat dirawat. Nyeri kronik merupakan masalah ketiga terbesar di Amerika, mengenai 1/3 populasinya.
Sering, pasien dengan nyeri kronik datang dengan keluhan nyeri akut, hal ini menjadi dilema bagi dokter. Setelah beberapa tahun, pasien seperti ini telah menjadi momok sebagai orang yang pura-pura sakit, psyconeurotics atau hypocondriacs.
Ciri dari nyeri pada pasien merupakan hasil dari adanya penyakit, luka atau operasi yang tidak tertangani dengan sempurna. Nyeri dapat persisten selama 6 bulan hingga bertahu-tahun dan akan menyulitkan dokter dalam mengidentifikasi dasar organ yang sakit. Pasien yag mencari perawatan dari banyak tempat termasuk alternatif, substansi yang ada dalam pikiran adalah” legitimasi, povider yang orthodox” kesimpulannya bahwa tidak ada kelainan medik. Sekarang, nyeri dapat merubah status psikologikal pasien, dan dapat menambah beban dokter bahwa nyeri itu nyata, sebuah kebutuhan berkembang sebagai hal yang diperlukan.
Nyeri kronik dan kegagalan dalam mendiagnosa dan merawat merupakan penyebab terbanyak ketidakmampuan dan pengeluaran kesehatan yang berlebihan. Ciri pasien yang menderita selama 7 tahun, mengalami 3 hingga 5 bedah mayor, dan menghabiskan $100.000. terdapat komplikasi klinis, resiko kecanduan obat (sering polifarmasi) melebihi 50%. Penderita nyeri kronik melewati berbagai pemeriksaan, sehingga pada akhirnya dirawat.
Organisasi manajemen nyeri membuat standar praktis dengan kebebasan yang luas, kualitas hukum dari pelayanan terapetik. Literatur terdahulu merefleksikan nyeri sebagai ikatan universal dari semua manusia, tetapi tidak lagi semenjak 1953 dengan adanya publikasi “manajemen nyeri “ oleh Dr. Bonica yang diberi gelar : father of pain medicine.” Sertifikasi luas telah dijamin oleh dua institusi independen dari American Board of Medical Specialties: The American Academy of Pain Management (AAPM) tergabung pada tahun 1988 dan American College of Pain Medicine dibangun pada tahun 1992. the American Pain Society, sebuah bagian nasional dari International Association for the Study of Pain (IASP), dibentuk pada tanggal 8 Agustus 1978 dai Washington, D.C.
Institusi ini merefleksikan keanggotaan multidisplin dengan AAPM dan dihadirkan pada House Delegates pf American Medical Association, yang telah mengenal nyeri sebagai suatu spesialisasi sejak tahun 1994.
Pada tahun 1990 dan 1991 IASP menekankan pada suatu pedoman tentang fasilitas manajemen nyeri dan juga membuat rekomendasi tentang inti kurikulum pendidikan profesional dalam manjemen nyeri. Sertifikasi yang standar untuk nyeri center dan program praktek kedokteran tentang nyeri yang komprehensif telah dibangun oleh APM, the Commission on Accreditation of Rehabilitation Facilities, dan the Joint Commission on Accreditation of Hospitals. Dari segi kepentingannya, perawatan nyeri yang komprehensif harus meliputi manajemen multidisplin yang kompleks terhadap pasien.

Konsep Dasar

Spesialisasi yang baru, pengobatan nyeri, sudah muncul ditengah-tengan perubahan di masyarakat dan kalangan profesional., revolusi teknologi kesehatan. Praktisi manajemen nyeri berasal dari berbagai spesialisasi dalam kedokteran dengan latar belakang yang berbeda dan mereka memiliki dasar latihan dan pengalaman yang berbeda. Walaupun IASP telah memplubikasikan Kurikulum Inti kepada Profesi dalam Manajemen Nyeri (Core Curriculum for Professional Education in Pain Management), tidak terdapat program latihan yang bersifat formal.
Praktisi kesehatan yang berkaitan dengan nyeri idealnya adalah dokter, terapis fisik, psikologist klinis, dan rehabilitasionalist kejuruan dengan sertifikasi anastesi, pskiatri, ortopedi dan neurologi. Hal ini tidak realistik, karena spesialis yang menangani nyeri merupakan integrasi dari beberapa disiplin ini. Dengan adanya lisensi dan dokumentasi tentang evaluasi fisiologi, psikiatri, fisioterapi, dan rehabilitasi, diharapkan dokter mampu menangani pasien sebagai individu yang unik. Sebagaimana dengan hal yang dinyatakan Sir William Osler “ tidak penting apa atau penyakit apa yang diderita pasien tetapi pasien seperti apa yang memiliki penyakit tersebut”.
Pelatihan medik menekankan ketaatan terhadap macamnya persepsi rutin yang standar, pembuatan keputusan, dan perawatan. Walaupun pendekatan ini dapat meyakinkan bahwa praktisi kedokteran melaksanakan perawatan sesuai dengan pedoman. Disini keinginan individu adalah sangat khusus dan dilayani oleh mereka yang memiliki kepintaran, kemampuan abstraksi, kebebasan dalam konsep integrasi, mengidentifikasi dengan elemen terbaik, termasuk tetapi tidak terbatas pada allopathy, osteopathy, homeopathy, fisik, spiritual, pengetahuan dan ketidaktahuan. Itulah yang ditulis oleh Plato.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar